Jiwa-mu memberontak. Ketidak-tegasan, hal itu lebih sering menyakitkan karena engkau bukanlah dirimu.
Menjaga Lisan
Penjara pada hakikatnya bukanlah soal raga tetapi jiwa. Ketidak-merdekaan jiwa.
Dan lisan adalah salah satu penyebabnya, saat ia (red:lisan) tidak sejalan dengan perilaku.
Dan saya mulai merenungkan ini..!!
Kemerdekaan Diri
Kemerdekaan diri terjajah oleh :
- Kekhawatiran akan ketidakpastian masa depan.
- Terlalu disibuk-kan oleh penilaian orang lain.
- Ketakutan akan ujian “penderitaan” dari Tuhan karena dosa-dosa.
[dari milis FLP] Janji akan SUATU SAAT …” ? “…
Oleh : RIFKY OESMAN (member milis FLP)
Seketika suatu waktu itu telah datang, dimana nanti jiwa ini akan pergi dari sosok tubuh yang penuh dosa. Hari-hari kemarin segera menjadi kenangan. Rasa rindu tak terelakan saat tersadar kalau ini adalah akhir.
Air mata menetes dari calon bangkai yang mulai tertimbun gumpalan-gumpalan tanah. Apa yang telah kuperbuat kemarin? Pernahkah saat itu aku mambayangi apa yang terjadi sekarang. Kini aku terhalang cahaya, aku dibatasi ruang sempit yang mengunci gerakku, aku terpaku dalam keheningan, kemudian pasrah disajikan sebagai hidangan lezat bagi binatang-binatang yang dahulu tak seberapa keperdulikan.
Balutan kain putih ini mulai ternodai oleh asal muasal seorang manusia, yang kemudian memaksa tubuhku menyatu hingga menyisakan tulang belulang seperti sebelumnya diciptakan. Aku ingin teriak dari siksaan yang merajai segala siksaan ini. Beberapa kali suaraku dibisukan, dan beberapa kali pula gerakku dibekukan. Tak ada daya untuk bisa keluar atau menghindar. Ini sudah menjadi ketentuan tak bertolak.
Pertanyaan atas mereka tak henti-hentinya terlontar padaku. Dan tak tahu lagi jawaban seperti apa yang harus kukatakan tanpa suara yang bisa terdengar. Tak ada yang bisa meredam kemarahan mereka, tak ada pula yang mau mengulurkan tangannya dalam derita pedihku saat ini. Aku benar-benar sendiri. Tertanam sendiri dalam sebuah kenyataan dan terkunci erat pada sebuah keadaan.
Beberapa saat, jiwa ini kembali menjerit keras tanpa adanya getaran suara. “aku ingin kembali……aku belum siap…..aku ingin kembali sekali lagi…..!”
Pertanggung jawaban yang terlalu berat. Jauh melampaui dari semua yang sudah diperbuat. Aku ingin mengulang kesempatanku. Tapi sayangnya tak ada lagi kesempatan. “Ini adalah wilayah tanggung jawab.!”, seru mereka sambil mengangkat alat siksaan dengan wajahnya yang marah. Berkali-kali lipat aku dihantam oleh tingkah laku kemarin. Setetes darah dibalas lautan darah, satu tamparan dibalas dengan pukulan keras bertubi-tubi.
Tak hentinya hati ini memohon ampunan mu, hai maha pemilik segala sesuatu tak terbatas. “aku menyesal…… aku sungguh menyesali apa yang telah terjadi…” Seharusnya aku bisa mengenal cintamu lebih awal. Wahai yang terkasih, begitu takjubnya saat kulihat sekujur tubuh ini tak berdaya menjadi bangkai dari ke_absolut_an masa lalu, yang begitu tinggi akan nilai eksistensialisme manusiawi sebelumnya.
Aku memang telah pergi bahkan lebih jauh dari yang pernah kubayangkan. Kesementaraan ini akhirnya berwujud garis finish dalam marathon kehidupan manusia. Aku takkan dapat kembali lagi….. Bodohnynya satu hal penting yang kulupakan, aku pergi tanpa bekal yang dapat kubawa. Seperti yang semestinya terjadi, aku kehausan, lapar, tanpa ada sesuatu yang dapat dimakan atau diminum. Anehnya aku tetap hidup, dan tetap tersiksa dengan rasa-rasa ini. Aku tetap dipaksa merasakan, tanpa dibiarkan mengetahui akhirnya.
Air mata yang seharusnya menjadi salah satu pelampiasanku saat ini, malah menjadi air bah yang menenggelamkan ruang sempitku. Aku butuh nafas, tak bisa kupaksakan menghirup udara dalam luapan air yang memadati seluruh isi ruang ini. “Kenapa aku tidak bisa mati disini……..?”
Wahai zat tak terbatas dan tak tersentuh, maukah engkau memaafkan ku dan membiarkanku memupuk cinta yang seharusnya kulakukan sebelumnya. Pendosa ini terus saja mengeluh dalam ketidak berdayaan. Tak ada lagi keluarga, kawan, sahabat, sekalipun musuh yang nampak.
Mungkinkah kelak kusampai pada sebuah titik dimana nantinya aku bisa mengerti akan siksaan dan cinta tak terbatas ini.
Hai, yang terkasih dari semua pengalaman dan rasa-rasa cinta terhebat, aku putuskan dengan seyakin-yakinnya bahwa aku begitu menginginkan menjadi kekasihmu…. Bahwa tak kusangka kau adalah tempat dari segala pujian dan maha dari segala keindahan. “Aku ingin mengatakan sekali lagi, bahkan ribuan kali lagi jika kelak umurku sampai, bahwa aku benar-benar jatuh cinta atas kasihmu ya ALLAH……” “La Ilaha Illallah”
nasehat untuk diri
- Tuhan itu sudah memberikan petunjuk jalan kebenaran. Ujung perjalannya adalah sebuah kemenangan yang besar dunia-akhirat. Sebesar apapun gelombang ujian yang datang tak akan pernah mengubah hasil akhir andaikata selalu berpegang pada tali kebenaran, KEMENANGAN akan menjadi milik kita.
- Latilah dirimu untuk menyikapi segala macam bentuk respon dari siapapun atas sikap yang telah kita perbuat, baik yang berupa perkataan ataupun perbuatan dengan cara-cara yang ihsan menurut apa yang diperintahkan Tuhan. Baik buruknya respon tidak akan mengurangi nilai kebaikan dari sikap mulia kita.
- Jangan pernah memperlakukan Tuhan seperti mitra dagang. Saat kita merasa telah banyak beribadah maka selayaknya Tuhan memberikan imbalan atas semua ibadah yang kita lakukan itu dan menolak ujian penderitaan dari Tuhan karena merasa tidak selayaknya penderitaan itu datang kerana sudah banyaknya ibadah yang dilakukan.
- Menikah itu adalah sedekah, maka jangan pernah banyak berharap untuk dicintai oleh pasangan tapi fokuslah untuk memberi sebanyak-banyaknya cinta karena dirimu ingin membahagiakannya. Terutama agar ia bisa menjadi seorang hamba yang mencintai Tuhannya.
- Goresan hitam mungkin sudah menghiasi lembaran-lembaran perjalanan hidup. Tak ada perbuatan sekecil apapun kecuali ada balasannya. Perbuatan baik dibalas dengan kebaikan dan sebaliknya perbuatan buruk akan dibalas dengan keburukan. Maka bersabarlah dengan segalah penderitaan karena itu mungkin adalah akibat dari perbuatan buruk masa lalu kita. Terimalah dengan hati yang lapang.
untuk bidadari ku..^_^
Cinta selalu menghadirkan sejuta puisi kebahagiaan.
Tak pernah ada lukisan yang bertemakan keluhan karena semua goresan adalah goresan pengorbanan.
Tidak sekedar pelukan hangat yang tersaji tetapi sebuah pohon kasih sayang yang selalu penuh dengan buah ketulusan untuk memberi yang terbaik.
Dan istriku menghadirkan itu semua untuk ku.
Terimakasih sayang, semoga engkau menjadi bidadari di surgaNYA kelak.
Cinta menghadirkan sejuta puisi kebahagiaan.
takutku dan perkataan yang melemahkan

futur
Saat kuliah, Alhamdulillah, ALLAH ngasih nikmat yang luar biasa. Salah satunya adalah punya sahabat-sahabat yang baik. Kalau boleh ku katakan : bersama merekalah saya mengenal sebuah arti persahabatan. Saya banyak belajar dari mereka. Senang rasanya punya sahabat-sahabat seperti mereka.
Suatu saat, setelah hampir dua tahun lulus kuliah, dengan berbagai macam episode kehidupan yang dijalani, kondisi imanku pada kondisi benar-benar hancur. Waktu itu saya serasa tak lagi mengenal diri sendiri…terlalu banyak yang berubah. Banyak sekali. Dan entah kenapa tiba-tiba saja ada persaan takut yang hadir. Takut kalau-kalau sahabat-sahabatku mungkin tak bisa menerima kondisiku dengan kehidupan yang saat itu sangat berantakan dan mungkin mereka akan menjauhiku. “Mungkin saya akan kehilangan sahabat-sahabat ku waktu kuliah dulu”..itu yang ku pikirkan. Singkat cerita terkirimlah email permintaan maaf dari ku ke sahabat-sahabat ku lewat milis kelas. Isinya :
Berdasarkan beberapa pertimbangan. walaupun rasa-rasanya sedikit kelihatan aneh.
Dengan ini saya wendi gunawan ingin memohon maaf lahir & batin kalau selama kebersamaan kita ada yang pernah tersakiti baik disengaja ataupun tidak.
Dan saya juga memohon dengan sangat kepada sabahat-sahabat untuk mau mengikhlaskannya.Kalau ada hutang yang belum saya lunasi tolong saya diingatkan.
Ada beberapa reply dari teman-teman waktu itu. Diantaranya bertanya kenapa isi email seperti diatas. Dan sayapun menjawabnya :
Semua orang ingin sekali menjadi orang yang lebih baik dalam kehidupan yang dijalaninya, begitupun saya. Banyak hal yang sudah diketahui melalui ceramah-ceramah,baca buku,nasehat dari orang lain ataupun dalam bentuk yang lainnya untuk menuju ke arah perbaikan itu. Namun terkadang ilmu yang sudah banyak diketahui itu bisa menjadi sebuah “penjara” tersendiri karena ketidak mampuan untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bukan kerana tidak mampu tapi tidak pernah mencoba itulah yang menjadi masalahnya. Lalu pertanyaannya kapan harus memulai langkah pertama itu sedangkan umur kian bertambah ??? Dan sekarang teman mu ini sedang belajar untuk mejalani kehidupannya dengan lebih baik.
Saya tidak tahu seberapa lama saya akan konsisten dengan semua perkataan saya ini.
Mungkin suatu saat saya akan jatuh lagi, dan saat jatuh itu sejujurnya saya sangat berharap kepada teman-teman semua untuk melihat saya sebagai orang yang sedang belajar “berjalan” untuk terus menjadi lebih baik bukan seseorang yang tidak konsisten dengan perkataannya (baca :perkataan tidak sesuai perbuatan).
Mudah-mudahan ini bisa menjawab pertanyaan sebagian dari teman-teman.
Doa ku untuk kesuksesan teman-teman.
wassalam.
Kenapa bunyi emailnya seperti diatas ? Saat itu hanya satu keinginanku, yaitu andaikata mereka melihat kondisiku yang waktu itu sedang dalam kondisi yang buruk mereka bisa memahamiku sebagai seseorang sedang yang belajar “berdiri“, punya banyak kelemahan…sehingga kadang jatuh, kadang berjalan sedikit miring (red:tidak berada pada jalan yang lurus).
Lama setelah mengirim email itu. Kusadari bahwa saya sedang melemahkan diriku sendiri dengan berkata-kata seperti itu. Kenapa saya harus menuntut orang lain untuk memahi perbuatan-perbuatan yang tidak baik yang telah kulakukan..!!! Harusnya saya dengan berani menerima semua akibat dari kesalahan-kesalahan yang kuperbuat. Entah itu dijauhi oleh teman-teman dekat, dihina, dicaci, dimaki..atau yang lainya. Apapun bentuk respon yang muncul seharusnya saya bisa lebih berjiwa ksatria yang berani menerima resiko apapun dari apa-apa yang sudah diperbuat.
Semoga tidak terulang lagi. Amiin.
buah keikhlasan..!!
Kawan, pernahkah kamu merasakan seorang yang jasadnya sudah tidak didunia lagi tapi Ia serasa masih hidup ?
Saat bulan puasa kemarin saya lagi seneng-senangnya tarawih keliling, tarawih tidak menetap pada satu masjid. Tentu saja yang saya maksud bukan 4 rakaat di Masjid Al-Ikhlas terus sambung lagi 4 rakaat lagi di Masjid An-Nur dan witirnya di Masjid Babusalam. Tapi sebisanya cari Masjid yang berbeda dari malam sebelumnya. Apalagi kalau datang ke Masjidnya pas buka..hehehe lumayan dapet ta’jil gratis..kalau lag beruntung bisa dapet nasi padang lho…!!!
)
Cerita menariknya adalah ketika tarawih di Masjid Agung Al-Azhar, sesuai tarawih iseng pengen baca Tafsir Al-Azhar buah karya dari guru besar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dangan Buya Hamka. Dilembaran-lembaran awal Tafsir tersebut saya melihat tulisan yang luar biasa, seperti apa tulisannya..saya tak ingat lagi..anda bisa membacanya di Masjid Al-Azhar di Jakarta. Kawan, lewat tulisan itu baru kurasakan sesuatu yang luar biasa. Lewat tulisan itu kutemukan sosok yang jasadnya tak lagi ada didunia tapi Ia rasa-rasanya masih tetap HIDUP. Inikah buah dari keikhlasan seorang hamba untuk taat kepada Tuhannya..?!!! hidup dan matinya..bulat hanya dipersembahkan kepada ALLAH. Ia akan terus hidup walaupun saat jasadnya sudah terbujur kaku dikubur.

Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah