14
May
09

takutku dan perkataan yang melemahkan

futur

futur

Saat kuliah, Alhamdulillah, ALLAH ngasih nikmat yang luar biasa. Salah satunya adalah punya sahabat-sahabat yang baik. Kalau boleh ku katakan : bersama merekalah saya mengenal sebuah arti persahabatan. Saya banyak belajar dari mereka. Senang rasanya punya sahabat-sahabat seperti mereka.

Suatu saat, setelah hampir dua tahun lulus kuliah, dengan berbagai macam episode kehidupan yang dijalani, kondisi imanku pada kondisi benar-benar hancur. Waktu itu saya serasa tak lagi mengenal diri sendiri…terlalu banyak yang berubah. Banyak sekali. Dan entah kenapa tiba-tiba saja ada persaan takut yang hadir. Takut kalau-kalau sahabat-sahabatku mungkin tak bisa menerima kondisiku dengan kehidupan yang saat itu sangat berantakan dan mungkin mereka akan menjauhiku. “Mungkin saya akan kehilangan sahabat-sahabat ku waktu kuliah dulu”..itu yang ku pikirkan. Singkat cerita terkirimlah email permintaan maaf dari ku ke sahabat-sahabat ku lewat milis kelas. Isinya :

Berdasarkan beberapa pertimbangan. walaupun rasa-rasanya sedikit kelihatan aneh.
Dengan ini saya wendi gunawan ingin memohon maaf lahir & batin kalau selama kebersamaan kita ada yang pernah tersakiti baik disengaja ataupun tidak.
Dan saya juga memohon dengan sangat kepada sabahat-sahabat untuk mau mengikhlaskannya.Kalau ada hutang yang belum saya lunasi tolong saya diingatkan.

Ada beberapa reply dari teman-teman waktu itu. Diantaranya bertanya kenapa isi email seperti diatas. Dan sayapun menjawabnya :

Semua orang ingin sekali menjadi orang yang lebih baik dalam kehidupan yang dijalaninya, begitupun saya. Banyak hal yang sudah diketahui melalui ceramah-ceramah,baca buku,nasehat dari orang lain ataupun dalam bentuk yang lainnya  untuk menuju ke arah perbaikan itu. Namun terkadang ilmu yang sudah banyak diketahui itu bisa menjadi sebuah “penjara” tersendiri karena ketidak mampuan untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bukan kerana tidak mampu tapi tidak pernah mencoba itulah yang menjadi masalahnya. Lalu pertanyaannya kapan harus memulai langkah pertama itu sedangkan umur kian bertambah ??? Dan sekarang teman mu ini sedang belajar untuk mejalani kehidupannya dengan lebih baik.
Saya tidak tahu seberapa lama saya akan konsisten dengan semua perkataan saya ini.
Mungkin suatu saat saya akan jatuh lagi, dan saat jatuh itu sejujurnya saya  sangat berharap kepada teman-teman semua untuk melihat saya sebagai orang yang sedang belajar “berjalan” untuk terus menjadi lebih baik bukan seseorang yang tidak konsisten dengan perkataannya (baca :perkataan tidak sesuai perbuatan).

Mudah-mudahan ini bisa menjawab pertanyaan sebagian dari teman-teman.

Doa ku untuk kesuksesan teman-teman.
wassalam.

Kenapa bunyi emailnya seperti diatas ? Saat itu hanya satu keinginanku, yaitu andaikata mereka  melihat kondisiku yang waktu itu sedang dalam kondisi yang buruk mereka bisa memahamiku sebagai seseorang sedang yang belajar “berdiri“, punya banyak kelemahan…sehingga kadang jatuh, kadang berjalan sedikit miring (red:tidak berada pada jalan yang lurus).

Lama setelah mengirim email itu. Kusadari bahwa saya sedang melemahkan diriku sendiri dengan berkata-kata seperti itu. Kenapa saya harus  menuntut orang lain untuk memahi perbuatan-perbuatan yang tidak baik yang telah kulakukan..!!! Harusnya saya  dengan berani menerima semua akibat dari kesalahan-kesalahan yang kuperbuat. Entah itu dijauhi oleh teman-teman dekat, dihina, dicaci, dimaki..atau yang lainya. Apapun bentuk respon yang muncul seharusnya saya bisa lebih berjiwa ksatria yang berani menerima resiko apapun dari apa-apa yang sudah diperbuat.

Semoga tidak terulang lagi. Amiin.

Makanya bunyi emailnya seperti itu.
13
May
09

buah keikhlasan..!!

Kawan, pernahkah kamu merasakan seorang yang jasadnya sudah tidak didunia lagi tapi Ia serasa masih hidup ?

Saat bulan puasa kemarin saya lagi seneng-senangnya tarawih keliling, tarawih tidak menetap pada satu masjid. Tentu saja yang saya maksud bukan 4 rakaat di Masjid Al-Ikhlas terus sambung lagi 4 rakaat lagi di Masjid An-Nur dan witirnya di Masjid Babusalam. Tapi sebisanya cari Masjid yang berbeda dari malam sebelumnya. Apalagi kalau datang ke Masjidnya pas buka..hehehe lumayan dapet ta’jil gratis..kalau lag beruntung bisa dapet nasi padang lho…!!! ;) )

Cerita menariknya adalah ketika tarawih di Masjid Agung Al-Azhar, sesuai tarawih iseng pengen baca Tafsir Al-Azhar buah karya dari guru besar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dangan Buya Hamka. Dilembaran-lembaran awal Tafsir tersebut saya melihat tulisan yang luar biasa, seperti apa tulisannya..saya tak ingat lagi..anda bisa membacanya di Masjid Al-Azhar di Jakarta. Kawan, lewat tulisan itu baru kurasakan sesuatu yang luar biasa. Lewat tulisan itu kutemukan sosok yang jasadnya tak lagi ada didunia tapi Ia rasa-rasanya masih tetap HIDUP. Inikah buah dari keikhlasan seorang hamba untuk taat kepada Tuhannya..?!!! hidup dan matinya..bulat hanya dipersembahkan kepada ALLAH. Ia akan terus hidup walaupun saat jasadnya sudah terbujur kaku dikubur.

Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah

Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah

27
Apr
09

kata-kata hikmah

Ada banyak jalan menuju roma..!! ^_^
Belakangan ini udah malas buat update blog..semangat nulisanya lagi pergi entah kemana. Eh ternyata dikasih jalan juga. Kemarin dapat amanah dari seorang sahabat untuk membantunya mencarikannnya kata-kata yang “keren” buat ditaruh dilembaran Laporan Tugas Akhir. So..”gara-gara” amanah itu akhirnya bisa nulis diblog lagi :D

Kata-kata ini saya ambil dari buku AL-HIKAM.  Dan ini adalah salah satu dari sekian banyak untaian mutiara dari seorang Imam Ibn’ Atha’illah yang saya kagumi.

Tapi cocok ga ya buat ditaruh di Laporan Tugas Akhir ??? :D

buku_alhikam3Bagaimana hati dapat bersinar sementara gambar dunia tertulis dalam cerminnya ? atau. Bagaimana hati bisa berangkat menuju ALLAH kalau ia masih terbelenggu oleh syahwatnya ?, atau bagaimana hati akan antusias mengahadap ke hadirat ALLAH bila belum suci dari “janabah” kelalaiannya ? atau, bagaimana hati mampu memahami kedalaman misteri gaib padahal ia belum bertobat dari kesalahannya ?

Penjelasan :
Hati laksana cermin. Ia memantulkan apa yang dihadapi dan diinginkannnya. Cermin itu tertarik pada apa yang diinginkannya dan menolok apa yang dihindarinya. Bila hati ikhlas mengahadapi cahaya Ilahi, maka ia memantulkan kebenaran yang mendalam, dan bila hati menghadapi dunia yang penuh perubahan dan perselisihan, maka ia memantulkan godaan dan realitas yang fana. Hati tidak bisa tercerahkan oleh penglihatan batin rohani jika ia tertutup dan ternodai oleh hasrat, nafsu, dan keinginan. Hati harus dipersembahkan semata-mata untuk tujuan awal, yakni jalan tauhid absolute. ALLAH-lah Tuhan Yang Maha Esa.

note :
@untuk sahabat yg mengamanahi
kalau ingin diganti sama yang lain kabari secepatnya ya..!!

07
Feb
09

sederhana tapi penuh cinta

Meskipun bentuknya nampak begitu sederhana, kalau dilakukan dengan cinta hasilnya akan bernilai tinggi. Kalau yang nampak sederhana itu adalah sebuah tingkah laku maka saya yakin bahwa anda akan selalu mengingatnya. Dan adalah ibuku melakukannya untuk ku, sederhana tapi penuh cinta. Menyenangkan saat mengingatnya. Rasanya ingin sekali bisa terulang lagi.

Walaupun saat itu saya sudah duduk dibangku SMU, ibu masih saja mau memotongi kuku-kuku ku yang sudah nampak panjang dan kotor. Kebanyakan,  ibuku melakukannya saat saya sedang pulas tidur. Terkadang saya terbangun sebentar dan melihat ibuku sedang memotongi kuku kakiku lalu berlanjut ke kuku tanganku. Hanya memotong kuku kawan..!! terlalu sepele dan sederhana sekali. Tapi begitulah, kalau sudah bercampur dengan cinta didalamnya jadilah semua begitu membahagiakan dan terpatri dalam ingatku.

Bu..apa kabarmu disana ??
Lama kita tak bertatap muka, hanya suaramu yang bisa kudengar.
Ku rindu padamu bu..!!
Do’a ku untuk mu dalam setiap sujud malamku

25
Jan
09

yuyu, my sister..!!

Galuh Windawati nama lengkapnya, tapi sedari dulu keluargaku memanggilnya dengan panggilan : Yuyu. Galuh Windawati dan Yuyu..hemm tak ada kaitannya sama sekali ya..!!! tapi begitulah kami sekeluarga memanggilnya dan saya harap anda tak menanyakan mengapa nama panggilannya  seperti itu. Saya tak tahu mengapa karena memang tidak pernah saya tanyakan soal nama itu ke orang tua ku.

Yuyu itu adikku. Dia adalah satu-satunya anak perempuan dikeluargaku. Sama seperti saudara-saudarnya yang lain ia dilahirkan di Luwuk, Sulawesi Tengah. Dan sekarang tak terasa ia sudah berusia 19 tahun, sedang menyelesaikan kuliah D3-nya di Kampus Ariyanti Bandung, juga sedang berjuang untuk menggapai cita-citanya tentunya.

Hehehe..lucu juga kalau ingat waktu dulu ketika ia masih kecil, ia selalu berteriak “gataaalll” saat bapak mengayunkan sedikit pukulan kasih sayang padanya sebagai hukuman karena kesalahannya. Dan ternyata cara ini manjur juga untuk meloloskannya dari hukuman itu (wahh..kenapa kami kakak-kakaknya tak bisa sepintar dia ya ? ^_^). Dan sekarang ia jauh lebih pintar loh..!!! IP nya dikampus sangat bagus (wah saya jadi malu nii..bisa kalah sama adik :D ).

Sebagai seorang kakak, saat ini apa yang paling kamu harapkan dari adikmu itu ?? andai ada pertanyaan seperti itu saya akan menjawab : saya ingin sekali agar ia istiqomah untuk shalat 5 waktu dan bisa tampil cantik dengan memakai jilbab. Itu adalah harapan terbesarku saat ini. Saya sangat sayang padanya. Saya ingin ia bisa meraih sukses tidak hanya didunia tapi juga diakhirat kelak. Dan semoga ia menjadi kebanggan bagi keluarganya, tak hanya bagi orang tuanya tapi juga kakak-kakaknya.

Jauh didalam hatiku, saya ingin meminta maaf padanya karena selama ini jarang sekali memperhatikannya, terlebih lagi saat saya merantau ke pulau jawa untuk kuliah, jarang sekali saya berkomukasi dengannya. Semoga ia bisa memaafkan kesalahanku ini.

to galuh : Salam sayang selalu dari kakakmu. ^_^

18
Dec
08

jagoan metematika

Tak ada teman yang kuanggap sebagai saingan dalam pelajaran matematika waktu duduk dibangku SMU kecuali teman yang satu ini. Ia teman akrabku. Potongan rambutnya bertemakan speed persis seperti rambut Jet Li ditambah sedikit jambul dibagian depan. Tubuhnya tak lebih tinggi dari saya. Kalau izin keluar kelas saat jam belajar sedang berlangsung hampir selalu dengan gaya uniknya : sedikit membungkuk, tangan kanannya diangat tak terlalu tinggi dengan hanya jari telunjuknya yang berdiri, dan tangan kirinya memegang perut, mirip orang yang sedang sakit perutnya karena kebelet buang air besar. Alasannya mungkin lebih karena agar tak ada lagi pertanyaan dari guru soal kenapa dia keluar kelas.  Dan Kalau mengerjakan tugas dari guru dipapan tulis lagi-lagi ia punya gaya unik lainnya : tangan kiri selalu dibelakang mirip posisi tangan saat kondisi istirahat pada kegiatan baris berbaris, dan raut wajah yang seolah-olah mengatakan dialah yang ahli untuk tugas itu.  Dan kami, teman sekelasnya akrab memanggilnya dengan nama Andi, itu nama panggilannya.

Matematika, barangkali tak ada mata pelajaran yang lebih menarik selain pelajaran yang satu itu baginya. Serupa dengan saya ini, terlalu sangat menyukai angka-angka. Maka jadilah kami dua orang  pecinta matematikaku yang saling beradu. Saya tak akan pernah sudih kalau nilai matematika lebih rendah dibanding dengannya. Dan Andi, ia tentu saja tak akan mau menerima kenyataan pahit kalau nilai matematikanya lebih rendah dariku.

Pada akhirnya harus ku akui bahwa ia memang punya kemampuan yang lebih baik dariku soal mata pelajaran yang penuh dengan angka-angka ini. Bahkan ia adalah murid kesayangan guru matematika di kelas. Dan kabar terakhir yang ku dengar kalau Andi adalah pemegang nilai tertinggi saat ujian EBTANAS seangkatanku, walaupun kabar ini belum kupastikan kebenarannya karena saya harus segera berangkat ke Bandung.

16
Dec
08

panggilan “abang”

Sungguh luar biasa kekuatan ketekunan itu, karena sesungguhnya perubahan kecil yang dilakukan secara terus menerus ternyata akan menghasilkan perubahan yang sangat besar. Tak heran memang jika batu besar yang keras  nan sombong itu bisa hancur lebur hanya oleh tetesan air yang mengenainya terus menerus. Dan karena kekuatan itu pula nama panggilan “abang” tersandang pada ku waktu kuliah dulu.

Entah untuk alasan apa saya menolak untuk dipanggil “abang”, yang pasti telingaku ini tak senang jika mendengar panggilan “bang wendi”.  Walaupun sebetulnya adalah wajar jika saya menyandang nama panggilan itu karena dikelas sayalah anak tertua. :D

Namanya Heru, lengkapnya Heru Haryadi. Salah satu sabahat terbaikku waktu kuliah. Dialah tokoh utamanya, pemilik ketekunan yang tak bosan memanggilku dengan sebutan “abang”. Telinganya itu sudah tak dapat mendengar dengan baik. Lihat saja kelakuannya ini : “abaangg..!!!” masih saja dia memanggilku dengan nama itu padahal sudah berulang kali ku melarangnya. Mungkin telinganya itu sudah harus diperiksakan ke dokter ahli THT karena sama sekali tak bisa mendengar lagi.

Seperti yang sudah kubilang kalau ketekunan itu sungguh luar biasa kekuatannya. Akhirnya tanpa sadar saya sudah akrab dengan panggilan “abang”. Sampai-sampai tak kuingat lagi sejak kapan kumulai menerima panggilan yang awalnya sangat kutentang itu.

Ah tapi syukurlah hanya dipanggil “abang” karena apa jadinya kalau waktu itu Heru tekun memanggilku dengan panggilan “kakek” ato “mbah” ??? ampuuuunn..!!

10
Dec
08

baca novel itu ternyata…??

Beginilah seseorang kalau sudah menyenangi sesuatu. Senang sekali ia membicarakannya. Tak jenuh ia mengulang-ngulangnya. Berhentinya nanti kalau ia bosan sendiri.

Tak se-tertarik seperti sekarang. Dulu sewaktu kuliah, novel adalah jenis bacaan yang tak begitu saya senangi. Bukan apa-apa tapi bukunya yang tebal sudah melunturkan semangat baca. Kalau anda pernah melihat rupa orang yang tidak cukup sabar untuk menuggu akhir cerita karena diharuskan membaca lembar demi lembar yang tidak sedikit jumlahnya, nah seperti itu pula saya.

Ayat-ayat Cinta, saya yakin anda pasti pernah mendengar judul novel itu. Itu adalah novel pertama yang saya baca., tapi tidak semuanya, hanya satu bab saja yang kubaca dari sekian banyak bab yang ada didalamnya padahal seorang teman sangat merekomendasikan novel itu untuk dibaca. Alasannya bukunya terlalu tebal.

Namun titik perubahanpun terjadi , beberapa bulan yang lalu, saat saya berada tempat penjualan buku yang berlokasi tepat didepan Masjid Daarut Tauhid di Geger Kalong Girang, Bandung. Mata saya lama melirik sebuah buku berjudul “Sang Pemimpi” karena bisik hatiku : judulnya gue banget deh!!. Sempat ragu untuk membelinya karena ternyata Sang Pemimpi adalah sebuah novel. Tapi akhirnya terbeli juga buku itu hanya dengan pertimbangan judulnya yang menarik. Dan itu adalah awal mula saya tertarik membaca novel.

Hari jumat 5 Desember kemarin tercatat sudah 3 novel yang berhasil dibaca. 2 novel tambahannya adalah Edensor dan Maryamah Karpov. Dari 3 novel yang sudah dibaca benar adanya kalau ternyata membaca novel itu sungguh menyenangkan, tidak hanya melihat dari isi ceritanya saja tapi ada hal yang lain yang bikin saya terkesan, dan saya bisa dibuat tersenyum kagum karenanya. Adalah kehebatan penggambaran suatu kondisi atau situasi kehidupan nyata kedalam suatu tulisan menggunakan kata-kata yang tak biasa, itulah sisi lain yang paling menarik dari sebuah novel.

Akhirnya mari : memeluk kata-kata kaya makna yang berhamburan pada setiap lembaran-lembaran novel.

novel terakhir dari tetralogi laskar pelangi

novel terakhir dari tetralogi laskar pelangi

09
Dec
08

kebiasaan membawa sisir

Adakah sangkut pautnya dengan ayah ?

Wajar jika saya memiliki bibir yang tebal sebab ayahku pun seperti itu. Wajar juga bila hidungku ini mancungnya kedalam sebab ibuku pun seperti itu. Tapi bagaimana dengan kebiasaanku membawa sisir ?

Samar ingatku kalau ayah sering membawa sisir setiap kali bepergian. Tapi sebulan yang lalu, saat mampir disebuah rumah makan, usai mengantar ibu ke Bandara Soekarno-Hatta, ia sibuk mencari sesuatu disaku baju dan celananya sampai akhirnya ku tahu kalau tenyata ia sedang mencari sisirnya. Sisirnya itu mungkin ketinggalan di rumah di Cianjur. Baru Setelah itu jelas ingatku kalau ayah sejak dulu memang sering membawa sisir yang biasanya ditaruh disaku bagian belakang celananya.

Dan saya, punya kebiasaan membawa sisir seperti ayahku semenjak kuliah. Awalnya sebetulnya karena dulu saat kuliah, rambut saya yang sedikit panjang sering berantakan usai mengambil wudhu. Mulai dari situ setiap kali saya bepergian, kemanapun itu, sisir tak lupa untuk disertakan.

Entahlah apakah kebiasaan ini turun dari ayahku atau tidak yang jelas beberapa teman sering menertawai, kata mereka : “mirip bapak-bapak”.

09
Dec
08

bapakku merindu

Bapakku, masih ku ingat raut wajahnya yang sedih sebulan yang lalu di Bogor, saat melepas kepergianku ke Magelang. Kubaca wajahnya : ia ingin mencium keningku dan memelukku hangat tanda bahwa ia sangat mencintai dan sayang pada anaknya.

Hampir 3 tahun lamanya kami tak pernah bertemu. Ia di Sulawesi dan saya di pulau Jawa. Baru beberapa hari bertemu dan harus berpisah lagi. Sedih rasanya.

Bapakku, beberapa hari ini ia sering menelponku. Bertanya kapan ke Cianjur. Sesekali juga pertanyaan yang sama disampaikan lewat sms. Tak pernah ia bilang kalau ia sedang rindu bertemu. Tapi lihatlah pertanyaan yang sering ia tanyakan..!! ku tahu kalau ia sedang merindu tuk berjumpa dengan anaknya.