Archive for December, 2008

18
Dec
08

jagoan metematika

Tak ada teman yang kuanggap sebagai saingan dalam pelajaran matematika waktu duduk dibangku SMU kecuali teman yang satu ini. Ia teman akrabku. Potongan rambutnya bertemakan speed persis seperti rambut Jet Li ditambah sedikit jambul dibagian depan. Tubuhnya tak lebih tinggi dari saya. Kalau izin keluar kelas saat jam belajar sedang berlangsung hampir selalu dengan gaya uniknya : sedikit membungkuk, tangan kanannya diangat tak terlalu tinggi dengan hanya jari telunjuknya yang berdiri, dan tangan kirinya memegang perut, mirip orang yang sedang sakit perutnya karena kebelet buang air besar. Alasannya mungkin lebih karena agar tak ada lagi pertanyaan dari guru soal kenapa dia keluar kelas.  Dan Kalau mengerjakan tugas dari guru dipapan tulis lagi-lagi ia punya gaya unik lainnya : tangan kiri selalu dibelakang mirip posisi tangan saat kondisi istirahat pada kegiatan baris berbaris, dan raut wajah yang seolah-olah mengatakan dialah yang ahli untuk tugas itu.  Dan kami, teman sekelasnya akrab memanggilnya dengan nama Andi, itu nama panggilannya.

Matematika, barangkali tak ada mata pelajaran yang lebih menarik selain pelajaran yang satu itu baginya. Serupa dengan saya ini, terlalu sangat menyukai angka-angka. Maka jadilah kami dua orang  pecinta matematikaku yang saling beradu. Saya tak akan pernah sudih kalau nilai matematika lebih rendah dibanding dengannya. Dan Andi, ia tentu saja tak akan mau menerima kenyataan pahit kalau nilai matematikanya lebih rendah dariku.

Pada akhirnya harus ku akui bahwa ia memang punya kemampuan yang lebih baik dariku soal mata pelajaran yang penuh dengan angka-angka ini. Bahkan ia adalah murid kesayangan guru matematika di kelas. Dan kabar terakhir yang ku dengar kalau Andi adalah pemegang nilai tertinggi saat ujian EBTANAS seangkatanku, walaupun kabar ini belum kupastikan kebenarannya karena saya harus segera berangkat ke Bandung.

16
Dec
08

panggilan “abang”

Sungguh luar biasa kekuatan ketekunan itu, karena sesungguhnya perubahan kecil yang dilakukan secara terus menerus ternyata akan menghasilkan perubahan yang sangat besar. Tak heran memang jika batu besar yang keras  nan sombong itu bisa hancur lebur hanya oleh tetesan air yang mengenainya terus menerus. Dan karena kekuatan itu pula nama panggilan “abang” tersandang pada ku waktu kuliah dulu.

Entah untuk alasan apa saya menolak untuk dipanggil “abang”, yang pasti telingaku ini tak senang jika mendengar panggilan “bang wendi”.  Walaupun sebetulnya adalah wajar jika saya menyandang nama panggilan itu karena dikelas sayalah anak tertua. :D

Namanya Heru, lengkapnya Heru Haryadi. Salah satu sabahat terbaikku waktu kuliah. Dialah tokoh utamanya, pemilik ketekunan yang tak bosan memanggilku dengan sebutan “abang”. Telinganya itu sudah tak dapat mendengar dengan baik. Lihat saja kelakuannya ini : “abaangg..!!!” masih saja dia memanggilku dengan nama itu padahal sudah berulang kali ku melarangnya. Mungkin telinganya itu sudah harus diperiksakan ke dokter ahli THT karena sama sekali tak bisa mendengar lagi.

Seperti yang sudah kubilang kalau ketekunan itu sungguh luar biasa kekuatannya. Akhirnya tanpa sadar saya sudah akrab dengan panggilan “abang”. Sampai-sampai tak kuingat lagi sejak kapan kumulai menerima panggilan yang awalnya sangat kutentang itu.

Ah tapi syukurlah hanya dipanggil “abang” karena apa jadinya kalau waktu itu Heru tekun memanggilku dengan panggilan “kakek” ato “mbah” ??? ampuuuunn..!!

10
Dec
08

baca novel itu ternyata…??

Beginilah seseorang kalau sudah menyenangi sesuatu. Senang sekali ia membicarakannya. Tak jenuh ia mengulang-ngulangnya. Berhentinya nanti kalau ia bosan sendiri.

Tak se-tertarik seperti sekarang. Dulu sewaktu kuliah, novel adalah jenis bacaan yang tak begitu saya senangi. Bukan apa-apa tapi bukunya yang tebal sudah melunturkan semangat baca. Kalau anda pernah melihat rupa orang yang tidak cukup sabar untuk menuggu akhir cerita karena diharuskan membaca lembar demi lembar yang tidak sedikit jumlahnya, nah seperti itu pula saya.

Ayat-ayat Cinta, saya yakin anda pasti pernah mendengar judul novel itu. Itu adalah novel pertama yang saya baca., tapi tidak semuanya, hanya satu bab saja yang kubaca dari sekian banyak bab yang ada didalamnya padahal seorang teman sangat merekomendasikan novel itu untuk dibaca. Alasannya bukunya terlalu tebal.

Namun titik perubahanpun terjadi , beberapa bulan yang lalu, saat saya berada tempat penjualan buku yang berlokasi tepat didepan Masjid Daarut Tauhid di Geger Kalong Girang, Bandung. Mata saya lama melirik sebuah buku berjudul “Sang Pemimpi” karena bisik hatiku : judulnya gue banget deh!!. Sempat ragu untuk membelinya karena ternyata Sang Pemimpi adalah sebuah novel. Tapi akhirnya terbeli juga buku itu hanya dengan pertimbangan judulnya yang menarik. Dan itu adalah awal mula saya tertarik membaca novel.

Hari jumat 5 Desember kemarin tercatat sudah 3 novel yang berhasil dibaca. 2 novel tambahannya adalah Edensor dan Maryamah Karpov. Dari 3 novel yang sudah dibaca benar adanya kalau ternyata membaca novel itu sungguh menyenangkan, tidak hanya melihat dari isi ceritanya saja tapi ada hal yang lain yang bikin saya terkesan, dan saya bisa dibuat tersenyum kagum karenanya. Adalah kehebatan penggambaran suatu kondisi atau situasi kehidupan nyata kedalam suatu tulisan menggunakan kata-kata yang tak biasa, itulah sisi lain yang paling menarik dari sebuah novel.

Akhirnya mari : memeluk kata-kata kaya makna yang berhamburan pada setiap lembaran-lembaran novel.

novel terakhir dari tetralogi laskar pelangi

novel terakhir dari tetralogi laskar pelangi

09
Dec
08

kebiasaan membawa sisir

Adakah sangkut pautnya dengan ayah ?

Wajar jika saya memiliki bibir yang tebal sebab ayahku pun seperti itu. Wajar juga bila hidungku ini mancungnya kedalam sebab ibuku pun seperti itu. Tapi bagaimana dengan kebiasaanku membawa sisir ?

Samar ingatku kalau ayah sering membawa sisir setiap kali bepergian. Tapi sebulan yang lalu, saat mampir disebuah rumah makan, usai mengantar ibu ke Bandara Soekarno-Hatta, ia sibuk mencari sesuatu disaku baju dan celananya sampai akhirnya ku tahu kalau tenyata ia sedang mencari sisirnya. Sisirnya itu mungkin ketinggalan di rumah di Cianjur. Baru Setelah itu jelas ingatku kalau ayah sejak dulu memang sering membawa sisir yang biasanya ditaruh disaku bagian belakang celananya.

Dan saya, punya kebiasaan membawa sisir seperti ayahku semenjak kuliah. Awalnya sebetulnya karena dulu saat kuliah, rambut saya yang sedikit panjang sering berantakan usai mengambil wudhu. Mulai dari situ setiap kali saya bepergian, kemanapun itu, sisir tak lupa untuk disertakan.

Entahlah apakah kebiasaan ini turun dari ayahku atau tidak yang jelas beberapa teman sering menertawai, kata mereka : “mirip bapak-bapak”.

09
Dec
08

bapakku merindu

Bapakku, masih ku ingat raut wajahnya yang sedih sebulan yang lalu di Bogor, saat melepas kepergianku ke Magelang. Kubaca wajahnya : ia ingin mencium keningku dan memelukku hangat tanda bahwa ia sangat mencintai dan sayang pada anaknya.

Hampir 3 tahun lamanya kami tak pernah bertemu. Ia di Sulawesi dan saya di pulau Jawa. Baru beberapa hari bertemu dan harus berpisah lagi. Sedih rasanya.

Bapakku, beberapa hari ini ia sering menelponku. Bertanya kapan ke Cianjur. Sesekali juga pertanyaan yang sama disampaikan lewat sms. Tak pernah ia bilang kalau ia sedang rindu bertemu. Tapi lihatlah pertanyaan yang sering ia tanyakan..!! ku tahu kalau ia sedang merindu tuk berjumpa dengan anaknya.