Tak ada teman yang kuanggap sebagai saingan dalam pelajaran matematika waktu duduk dibangku SMU kecuali teman yang satu ini. Ia teman akrabku. Potongan rambutnya bertemakan speed persis seperti rambut Jet Li ditambah sedikit jambul dibagian depan. Tubuhnya tak lebih tinggi dari saya. Kalau izin keluar kelas saat jam belajar sedang berlangsung hampir selalu dengan gaya uniknya : sedikit membungkuk, tangan kanannya diangat tak terlalu tinggi dengan hanya jari telunjuknya yang berdiri, dan tangan kirinya memegang perut, mirip orang yang sedang sakit perutnya karena kebelet buang air besar. Alasannya mungkin lebih karena agar tak ada lagi pertanyaan dari guru soal kenapa dia keluar kelas. Dan Kalau mengerjakan tugas dari guru dipapan tulis lagi-lagi ia punya gaya unik lainnya : tangan kiri selalu dibelakang mirip posisi tangan saat kondisi istirahat pada kegiatan baris berbaris, dan raut wajah yang seolah-olah mengatakan dialah yang ahli untuk tugas itu. Dan kami, teman sekelasnya akrab memanggilnya dengan nama Andi, itu nama panggilannya.
Matematika, barangkali tak ada mata pelajaran yang lebih menarik selain pelajaran yang satu itu baginya. Serupa dengan saya ini, terlalu sangat menyukai angka-angka. Maka jadilah kami dua orang pecinta matematikaku yang saling beradu. Saya tak akan pernah sudih kalau nilai matematika lebih rendah dibanding dengannya. Dan Andi, ia tentu saja tak akan mau menerima kenyataan pahit kalau nilai matematikanya lebih rendah dariku.
Pada akhirnya harus ku akui bahwa ia memang punya kemampuan yang lebih baik dariku soal mata pelajaran yang penuh dengan angka-angka ini. Bahkan ia adalah murid kesayangan guru matematika di kelas. Dan kabar terakhir yang ku dengar kalau Andi adalah pemegang nilai tertinggi saat ujian EBTANAS seangkatanku, walaupun kabar ini belum kupastikan kebenarannya karena saya harus segera berangkat ke Bandung.
