Sungguh luar biasa kekuatan ketekunan itu, karena sesungguhnya perubahan kecil yang dilakukan secara terus menerus ternyata akan menghasilkan perubahan yang sangat besar. Tak heran memang jika batu besar yang keras nan sombong itu bisa hancur lebur hanya oleh tetesan air yang mengenainya terus menerus. Dan karena kekuatan itu pula nama panggilan “abang” tersandang pada ku waktu kuliah dulu.
Entah untuk alasan apa saya menolak untuk dipanggil “abang”, yang pasti telingaku ini tak senang jika mendengar panggilan “bang wendi”. Walaupun sebetulnya adalah wajar jika saya menyandang nama panggilan itu karena dikelas sayalah anak tertua.
Namanya Heru, lengkapnya Heru Haryadi. Salah satu sabahat terbaikku waktu kuliah. Dialah tokoh utamanya, pemilik ketekunan yang tak bosan memanggilku dengan sebutan “abang”. Telinganya itu sudah tak dapat mendengar dengan baik. Lihat saja kelakuannya ini : “abaangg..!!!” masih saja dia memanggilku dengan nama itu padahal sudah berulang kali ku melarangnya. Mungkin telinganya itu sudah harus diperiksakan ke dokter ahli THT karena sama sekali tak bisa mendengar lagi.
Seperti yang sudah kubilang kalau ketekunan itu sungguh luar biasa kekuatannya. Akhirnya tanpa sadar saya sudah akrab dengan panggilan “abang”. Sampai-sampai tak kuingat lagi sejak kapan kumulai menerima panggilan yang awalnya sangat kutentang itu.
Ah tapi syukurlah hanya dipanggil “abang” karena apa jadinya kalau waktu itu Heru tekun memanggilku dengan panggilan “kakek” ato “mbah” ??? ampuuuunn..!!