Oleh : RIFKY OESMAN (member milis FLP)
Seketika suatu waktu itu telah datang, dimana nanti jiwa ini akan pergi dari sosok tubuh yang penuh dosa. Hari-hari kemarin segera menjadi kenangan. Rasa rindu tak terelakan saat tersadar kalau ini adalah akhir.
Air mata menetes dari calon bangkai yang mulai tertimbun gumpalan-gumpalan tanah. Apa yang telah kuperbuat kemarin? Pernahkah saat itu aku mambayangi apa yang terjadi sekarang. Kini aku terhalang cahaya, aku dibatasi ruang sempit yang mengunci gerakku, aku terpaku dalam keheningan, kemudian pasrah disajikan sebagai hidangan lezat bagi binatang-binatang yang dahulu tak seberapa keperdulikan.
Balutan kain putih ini mulai ternodai oleh asal muasal seorang manusia, yang kemudian memaksa tubuhku menyatu hingga menyisakan tulang belulang seperti sebelumnya diciptakan. Aku ingin teriak dari siksaan yang merajai segala siksaan ini. Beberapa kali suaraku dibisukan, dan beberapa kali pula gerakku dibekukan. Tak ada daya untuk bisa keluar atau menghindar. Ini sudah menjadi ketentuan tak bertolak.
Pertanyaan atas mereka tak henti-hentinya terlontar padaku. Dan tak tahu lagi jawaban seperti apa yang harus kukatakan tanpa suara yang bisa terdengar. Tak ada yang bisa meredam kemarahan mereka, tak ada pula yang mau mengulurkan tangannya dalam derita pedihku saat ini. Aku benar-benar sendiri. Tertanam sendiri dalam sebuah kenyataan dan terkunci erat pada sebuah keadaan.
Beberapa saat, jiwa ini kembali menjerit keras tanpa adanya getaran suara. “aku ingin kembali……aku belum siap…..aku ingin kembali sekali lagi…..!”
Pertanggung jawaban yang terlalu berat. Jauh melampaui dari semua yang sudah diperbuat. Aku ingin mengulang kesempatanku. Tapi sayangnya tak ada lagi kesempatan. “Ini adalah wilayah tanggung jawab.!”, seru mereka sambil mengangkat alat siksaan dengan wajahnya yang marah. Berkali-kali lipat aku dihantam oleh tingkah laku kemarin. Setetes darah dibalas lautan darah, satu tamparan dibalas dengan pukulan keras bertubi-tubi.
Tak hentinya hati ini memohon ampunan mu, hai maha pemilik segala sesuatu tak terbatas. “aku menyesal…… aku sungguh menyesali apa yang telah terjadi…” Seharusnya aku bisa mengenal cintamu lebih awal. Wahai yang terkasih, begitu takjubnya saat kulihat sekujur tubuh ini tak berdaya menjadi bangkai dari ke_absolut_an masa lalu, yang begitu tinggi akan nilai eksistensialisme manusiawi sebelumnya.
Aku memang telah pergi bahkan lebih jauh dari yang pernah kubayangkan. Kesementaraan ini akhirnya berwujud garis finish dalam marathon kehidupan manusia. Aku takkan dapat kembali lagi….. Bodohnynya satu hal penting yang kulupakan, aku pergi tanpa bekal yang dapat kubawa. Seperti yang semestinya terjadi, aku kehausan, lapar, tanpa ada sesuatu yang dapat dimakan atau diminum. Anehnya aku tetap hidup, dan tetap tersiksa dengan rasa-rasa ini. Aku tetap dipaksa merasakan, tanpa dibiarkan mengetahui akhirnya.
Air mata yang seharusnya menjadi salah satu pelampiasanku saat ini, malah menjadi air bah yang menenggelamkan ruang sempitku. Aku butuh nafas, tak bisa kupaksakan menghirup udara dalam luapan air yang memadati seluruh isi ruang ini. “Kenapa aku tidak bisa mati disini……..?”
Wahai zat tak terbatas dan tak tersentuh, maukah engkau memaafkan ku dan membiarkanku memupuk cinta yang seharusnya kulakukan sebelumnya. Pendosa ini terus saja mengeluh dalam ketidak berdayaan. Tak ada lagi keluarga, kawan, sahabat, sekalipun musuh yang nampak.
Mungkinkah kelak kusampai pada sebuah titik dimana nantinya aku bisa mengerti akan siksaan dan cinta tak terbatas ini.
Hai, yang terkasih dari semua pengalaman dan rasa-rasa cinta terhebat, aku putuskan dengan seyakin-yakinnya bahwa aku begitu menginginkan menjadi kekasihmu…. Bahwa tak kusangka kau adalah tempat dari segala pujian dan maha dari segala keindahan. “Aku ingin mengatakan sekali lagi, bahkan ribuan kali lagi jika kelak umurku sampai, bahwa aku benar-benar jatuh cinta atas kasihmu ya ALLAH……” “La Ilaha Illallah”